Pendahuluan
Dokumen merupakan bagian penting dalam kegiatan operasional perusahaan. Kontrak, invoice, laporan keuangan, dokumen legal, data kepegawaian, surat-menyurat, dokumen proyek, hingga berbagai arsip administrasi menjadi sumber informasi yang dibutuhkan untuk menjalankan pekerjaan dan mengambil keputusan.
Namun, semakin besar aktivitas perusahaan, semakin banyak pula dokumen yang harus disimpan. Jika seluruh informasi masih bergantung pada arsip kertas, perusahaan dapat menghadapi berbagai kendala, mulai dari keterbatasan ruang penyimpanan, pencarian dokumen yang lambat, hingga risiko kerusakan atau kehilangan arsip.
Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan adalah digitalisasi arsip.
Digitalisasi arsip membantu mengubah informasi yang sebelumnya tersimpan dalam media fisik menjadi bentuk digital sehingga lebih mudah diakses, dikelola, dan diintegrasikan dengan sistem pengelolaan dokumen.
Namun, digitalisasi arsip bukan hanya kegiatan memindai dokumen dan menyimpannya sebagai PDF. Agar benar-benar bermanfaat, perusahaan perlu memikirkan bagaimana dokumen tersebut diklasifikasikan, diberi nama, diberi metadata, diperiksa kualitasnya, diamankan, dicadangkan, dan ditemukan kembali ketika dibutuhkan.
Karena itu, digitalisasi arsip sebaiknya dipandang sebagai bagian dari strategi pengelolaan informasi perusahaan, bukan sekadar proses scanning.
Apa Itu Arsip Digital?
Arsip digital adalah arsip yang informasi atau isinya tersedia dalam bentuk elektronik dan dapat disimpan serta dikelola menggunakan perangkat atau sistem digital.
Arsip digital dapat berasal dari dua sumber.
Pertama, dokumen yang sejak awal dibuat secara digital, seperti dokumen PDF, spreadsheet, email, laporan elektronik, atau dokumen yang dibuat menggunakan aplikasi.
Kedua, dokumen fisik yang kemudian diubah menjadi bentuk digital melalui proses scanning atau alih media.
Dengan demikian, tidak semua arsip digital berasal dari dokumen kertas. Sebagian memang sudah dibuat secara digital sejak awal.
Arsip digital juga tidak hanya berupa dokumen teks. Dalam organisasi, arsip digital dapat berupa gambar, rekaman suara, video, spreadsheet, hasil scanning, maupun berbagai format informasi elektronik lainnya.
Pelaksanaan alih media arsip juga memiliki landasan dalam Peraturan Arsip Nasional Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2018 tentang Pedoman Pemeliharaan Arsip Dinamis, yang di dalamnya mengatur alih media arsip sebagai bagian dari pemeliharaan arsip dinamis
Apa Perbedaan Arsip Digital dan Digitalisasi Arsip?
Kedua istilah tersebut sering digunakan secara bergantian, padahal memiliki konteks yang berbeda.
Arsip digital merujuk pada bentuk atau kondisi arsip yang tersedia dalam format elektronik.
Sementara itu, digitalisasi arsip merujuk pada proses mengubah atau mengelola informasi dari media konvensional agar dapat tersedia dan dikelola dalam lingkungan digital.
Misalnya, sebuah perusahaan memiliki 10.000 dokumen kontrak dalam bentuk kertas.
Ketika dokumen tersebut diproses menjadi file PDF, hasil PDF tersebut dapat disebut sebagai arsip dalam bentuk digital. Sedangkan kegiatan mulai dari menyeleksi dokumen, mempersiapkan arsip, melakukan scanning, memeriksa hasil, memberikan nama file, membuat indexing, hingga mengelola hasilnya merupakan bagian dari proses digitalisasi.
ANRI juga menekankan bahwa digitisasi arsip tidak semata-mata dipahami sebagai pemindahan arsip konvensional ke bentuk digital, tetapi berkaitan dengan keberlanjutan informasi serta pengelolaan arsip.
Mengapa Digitalisasi Arsip Penting bagi Perusahaan?
Perusahaan membutuhkan informasi yang dapat ditemukan ketika dibutuhkan.
Masalahnya, dokumen yang disimpan secara konvensional sering kali membutuhkan proses pencarian manual. Petugas harus membuka lemari, mencari folder, memeriksa bundel, dan memastikan dokumen yang ditemukan merupakan dokumen yang tepat.
Ketika volume arsip semakin besar, cara tersebut menjadi semakin tidak efisien.
Digitalisasi arsip dapat membantu perusahaan membangun cara kerja yang lebih terstruktur dengan mengubah arsip fisik menjadi informasi digital yang dapat dikelola menggunakan perangkat dan sistem.
Beberapa alasan perusahaan mulai mempertimbangkan digitalisasi arsip antara lain:
- Volume arsip fisik terus bertambah.
- Ruang penyimpanan semakin terbatas.
- Pencarian dokumen membutuhkan waktu.
- Banyak pengguna membutuhkan akses terhadap dokumen yang sama.
- Dokumen perlu dilindungi dari penggunaan fisik berulang.
- Perusahaan membutuhkan pengelolaan dokumen yang lebih terstruktur.
- Informasi perlu diintegrasikan dengan sistem digital.
- Perusahaan ingin meningkatkan efisiensi proses administrasi.
Manfaat Digitalisasi Arsip untuk Perusahaan
1. Mempercepat Pencarian Dokumen
Salah satu manfaat utama digitalisasi arsip adalah membantu mempercepat pencarian informasi.
Dokumen yang sudah memiliki nama file, klasifikasi, metadata, atau indeks yang konsisten akan lebih mudah ditemukan dibandingkan dokumen yang hanya disimpan dalam tumpukan folder fisik.
Pencarian bahkan dapat dikembangkan menggunakan OCR sehingga teks yang terdapat pada dokumen hasil scanning dapat dikenali oleh sistem.
2. Mengurangi Ketergantungan pada Arsip Fisik
Dokumen fisik tetap memiliki peran dalam pengelolaan arsip. Namun, untuk kebutuhan akses sehari-hari, salinan digital dapat membantu mengurangi frekuensi penggunaan dokumen asli.
Hal ini dapat membantu mengurangi risiko kerusakan yang disebabkan oleh terlalu seringnya arsip fisik dipindahkan atau digunakan.
3. Menghemat Ruang Penyimpanan
Pertumbuhan arsip fisik dapat membuat perusahaan membutuhkan lemari, ruang arsip, bahkan fasilitas penyimpanan khusus.
Digitalisasi membantu mengurangi ketergantungan pada ruang fisik untuk kebutuhan akses terhadap informasi.
Namun, digitalisasi tidak berarti seluruh arsip fisik dapat langsung dibuang. Keputusan mengenai retensi dan pemusnahan tetap perlu mengikuti kebijakan dan ketentuan kearsipan yang berlaku.
4. Mendukung Keamanan Informasi
Arsip digital dapat dikelola menggunakan mekanisme keamanan seperti pembatasan hak akses, autentikasi pengguna, pencadangan data, dan pencatatan aktivitas.
Dengan pengaturan tersebut, perusahaan dapat menentukan siapa yang dapat melihat, mengunduh, mengubah, atau mengelola dokumen tertentu.
5. Memudahkan Kolaborasi
Dokumen digital dapat lebih mudah digunakan oleh beberapa unit kerja sesuai dengan hak akses yang diberikan.
Misalnya, dokumen kontrak dapat dibutuhkan oleh bagian legal, procurement, keuangan, dan manajemen.
Dengan pengelolaan digital yang baik, setiap pihak yang memiliki kewenangan dapat mengakses informasi tanpa harus memindahkan dokumen fisik dari satu ruangan ke ruangan lain.
6. Mendukung Audit dan Pengambilan Keputusan
Dokumen perusahaan sering menjadi bukti atas suatu transaksi, keputusan, kegiatan, atau hubungan kerja sama.
Ketika dokumen dapat ditemukan dengan cepat dan informasi pendukungnya tersusun dengan baik, perusahaan dapat lebih mudah menyiapkan dokumen untuk audit, pemeriksaan, maupun kebutuhan pengambilan keputusan.
7. Mendukung Integrasi dengan Sistem Digital
Arsip digital dapat menjadi bagian dari ekosistem pengelolaan informasi perusahaan.
Dokumen yang sudah terstruktur dapat dikelola lebih lanjut menggunakan Document Management System (DMS), aplikasi kearsipan, atau sistem internal perusahaan sesuai kebutuhan.
Contoh Arsip yang Dapat Didigitalisasi
Hampir setiap jenis dokumen perusahaan dapat dipertimbangkan untuk didigitalisasi selama prosesnya disesuaikan dengan karakteristik dan kebijakan arsip.
Beberapa contohnya meliputi:
Dokumen Legal
- Kontrak
- Perjanjian kerja sama
- Akta
- Dokumen perizinan
- Dokumen hukum
Dokumen Keuangan
- Invoice
- Bukti pembayaran
- Laporan keuangan
- Faktur
- Dokumen pajak
Dokumen Kepegawaian
- Dokumen administrasi karyawan
- Formulir kepegawaian
- Dokumen pendukung HR
- Riwayat administrasi karyawan
Dokumen Operasional
- SOP
- Laporan operasional
- Formulir
- Surat internal
- Dokumen procurement
Dokumen Proyek
- Kontrak proyek
- Gambar teknis
- Laporan proyek
- Berita acara
- Dokumen pendukung pekerjaan
Arsip Historis
Dokumen lama yang memiliki nilai informasi atau nilai historis juga dapat menjadi bagian dari program digitalisasi dengan metode penanganan yang disesuaikan dengan kondisi fisiknya.
Cara Melakukan Digitalisasi Arsip Perusahaan
Digitalisasi arsip sebaiknya dilakukan secara bertahap agar hasilnya tidak hanya banyak, tetapi juga terstruktur dan dapat digunakan.
1. Tentukan Tujuan Digitalisasi
Sebelum memulai, perusahaan perlu menentukan alasan arsip akan didigitalisasi.
Apakah tujuannya untuk:
- Mempercepat pencarian?
- Mengurangi penggunaan arsip fisik?
- Menyiapkan dokumen untuk sistem DMS?
- Mendukung kebutuhan audit?
- Melindungi dokumen dari penggunaan berulang?
- Mengurangi ruang penyimpanan?
- Meningkatkan akses antarunit?
Tujuan tersebut akan memengaruhi standar proses dan hasil yang dibutuhkan.
2. Inventarisasi Arsip
Buat daftar dokumen yang akan diproses.
Inventarisasi dapat mencakup:
- Nama atau jenis arsip
- Jumlah dokumen
- Jumlah halaman
- Tahun arsip
- Unit pemilik
- Kondisi fisik
- Tingkat kerahasiaan
- Lokasi penyimpanan
- Prioritas digitalisasi
Tahap ini penting agar perusahaan mengetahui skala pekerjaan sebelum proses dimulai.
3. Klasifikasikan Dokumen
Dokumen sebaiknya dikelompokkan berdasarkan kategori yang jelas.
Misalnya:
Legal → Kontrak → Vendor → Tahun 2026
atau:
Keuangan → Invoice → Supplier → Tahun 2026
Struktur tersebut akan membantu menentukan bagaimana dokumen nantinya disimpan dan dicari.
4. Persiapkan Dokumen Fisik
Sebelum scanning, dokumen perlu dipersiapkan.
Tahap ini dapat mencakup:
- Penyortiran
- Pengurutan dokumen
- Pelepasan staples
- Pemeriksaan halaman
- Pemisahan dokumen yang berbeda
- Penanganan dokumen yang rusak
Untuk arsip dengan kondisi khusus, penanganannya harus dilakukan secara hati-hati agar proses tidak menyebabkan kerusakan tambahan.
5. Lakukan Scanning atau Alih Media
Dokumen fisik kemudian diubah menjadi file digital menggunakan perangkat yang sesuai.
Format output dapat disesuaikan dengan kebutuhan, misalnya PDF, TIFF, atau JPG.
ANRI sendiri menyediakan layanan alih media arsip kertas ke format elektronik/digital, dengan proses yang mencakup survei kebutuhan, pemeriksaan kondisi arsip, pelaksanaan alih media, pelaporan, dan serah terima hasil.
Karena itu, proses digitalisasi dalam skala besar sebaiknya tidak hanya memperhatikan kecepatan scanning, tetapi juga prosedur penanganan arsip dan pengendalian hasil.
6. Lakukan Quality Control
Hasil scanning perlu diperiksa sebelum dianggap selesai.
Beberapa hal yang dapat diperiksa:
- Apakah semua halaman sudah dipindai?
- Apakah halaman terpotong?
- Apakah urutan halaman benar?
- Apakah dokumen dapat dibaca?
- Apakah orientasi halaman sesuai?
- Apakah kualitas gambar memenuhi standar?
- Apakah file dapat dibuka?
- Apakah nama file sudah sesuai?
Quality control membantu mencegah kesalahan yang baru diketahui ketika dokumen sudah dibutuhkan.
7. Gunakan OCR Jika Dibutuhkan
OCR atau Optical Character Recognition dapat digunakan untuk mengenali teks dari dokumen hasil scanning.
Contohnya, perusahaan memiliki ribuan surat dalam bentuk PDF hasil scan.
Tanpa OCR, file tersebut mungkin hanya diperlakukan sebagai gambar. Dengan OCR, teks tertentu dapat dikenali sehingga pencarian informasi menjadi lebih mudah, meskipun hasil OCR tetap perlu diperiksa karena akurasinya dapat dipengaruhi kualitas dokumen dan hasil scanning.
8. Buat Penamaan File yang Konsisten
Kesalahan yang sering terjadi dalam pengelolaan arsip digital adalah file diberi nama secara sembarangan.
Contoh yang kurang efektif:
- scan001.pdf
- scan002.pdf
- dokumenbaru.pdf
- hasilscan.pdf
Nama tersebut tidak memberikan informasi yang cukup.
Perusahaan dapat membuat pola penamaan berdasarkan kebutuhan, misalnya:
JenisDokumen_Nomor_Tahun_Unit.pdf
Contoh:
Kontrak_0234_2026_Procurement.pdf
Aturan tersebut perlu disepakati sejak awal agar seluruh file memiliki pola yang konsisten.
9. Tambahkan Indexing dan Metadata
Nama file saja mungkin belum cukup.
Perusahaan dapat menambahkan informasi seperti:
- Nomor dokumen
- Jenis dokumen
- Tanggal
- Tahun
- Unit kerja
- Nama pihak
- Nomor kontrak
- Status dokumen
- Kategori arsip
Informasi tersebut membantu proses pencarian dan pengelolaan dalam jumlah besar.
10. Simpan pada Sistem yang Tepat
Setelah file dibuat dan diberi informasi pendukung, perusahaan perlu menentukan tempat penyimpanan.
Penyimpanan dapat menggunakan server internal, cloud, repositori dokumen, aplikasi arsip digital, atau DMS sesuai kebutuhan organisasi.
Hal yang perlu diperhatikan bukan hanya kapasitas, tetapi juga keamanan, kontrol akses, backup, kemudahan pencarian, dan keberlanjutan pengelolaan.
11. Atur Hak Akses
Tidak semua dokumen perusahaan boleh dibuka oleh semua orang.
Dokumen keuangan, data pegawai, kontrak, dokumen legal, dan informasi strategis dapat membutuhkan pembatasan akses.
Karena itu, perusahaan perlu membuat aturan mengenai siapa yang dapat melihat, mengunduh, mengubah, atau mengelola dokumen.
12. Siapkan Backup
Salah satu kesalahan dalam digitalisasi adalah menganggap bahwa menyimpan satu salinan digital sudah cukup.
Perusahaan sebaiknya memiliki strategi backup yang sesuai dengan tingkat kepentingan dokumen.
Backup perlu dipertimbangkan agar informasi tetap tersedia apabila terjadi kerusakan perangkat, kesalahan pengguna, kehilangan data, atau gangguan sistem.
Digitalisasi Arsip Bukan Sekadar Scanning
Scanning merupakan salah satu bagian dari proses digitalisasi arsip.
Jika perusahaan hanya memindai dokumen tanpa memperhatikan struktur pengelolaan, hasilnya dapat berupa ribuan file digital yang justru sulit ditemukan.
Bayangkan perusahaan memiliki 50.000 halaman kontrak.
Semua dokumen berhasil dipindai, tetapi nama filenya hanya:
scan001.pdf hingga scan50000.pdf
Secara teknis dokumen tersebut sudah berada dalam bentuk digital.
Namun, dari sisi pengelolaan informasi, perusahaan masih memiliki persoalan pencarian.
Karena itu, digitalisasi arsip yang baik perlu memikirkan capture, klasifikasi, indexing, metadata, penyimpanan, keamanan, pencarian, backup, dan pengelolaan setelah dokumen menjadi digital.
ANRI juga menjelaskan bahwa digitisasi arsip tidak semata-mata sekadar alih media, melainkan bagian dari upaya menjaga keberlanjutan informasi dan mendukung pengelolaan kearsipan.
Bagaimana Menjaga Keamanan Arsip Digital?
Perubahan dari arsip fisik ke arsip digital tidak otomatis membuat dokumen aman.
Perusahaan tetap perlu mengelola risiko keamanan.
Beberapa langkah yang dapat diterapkan antara lain:
Kontrol akses
Batasi akses berdasarkan jabatan, unit kerja, fungsi, atau kebutuhan pekerjaan.
Password dan autentikasi
Gunakan mekanisme autentikasi yang sesuai untuk memastikan hanya pengguna yang berwenang dapat masuk ke sistem.
Backup
Sediakan salinan cadangan dengan prosedur pemulihan yang jelas.
Audit trail
Untuk sistem tertentu, aktivitas pengguna dapat dicatat sehingga perusahaan dapat mengetahui aktivitas terhadap dokumen.
Pengamanan saat pemindahan
Dokumen fisik dan digital perlu dikendalikan ketika dipindahkan dari satu lokasi atau sistem ke lokasi lainnya.
Perlindungan terhadap dokumen sensitif
Dokumen yang mengandung informasi rahasia memerlukan pengamanan lebih ketat dibandingkan dokumen umum.
Apakah Arsip Fisik Setelah Digitalisasi Boleh Langsung Dimusnahkan?
Tidak otomatis.
Digitalisasi arsip dan pemusnahan arsip merupakan dua kegiatan yang berbeda.
Ketika dokumen fisik sudah berhasil dipindai, perusahaan tidak boleh langsung menganggap bahwa dokumen asli sudah tidak diperlukan.
Perusahaan perlu melihat status, nilai, retensi, dan ketentuan yang berlaku terhadap arsip tersebut.
Dengan kata lain:
Sudah digital ≠ otomatis boleh dimusnahkan.
Keputusan penyusutan atau pemusnahan perlu dilakukan berdasarkan kebijakan kearsipan dan ketentuan yang berlaku.
Hal ini penting terutama untuk dokumen yang memiliki nilai hukum, administratif, historis, atau nilai pembuktian.
Digitalisasi Arsip dan Document Management System
Setelah dokumen berhasil didigitalisasi, tantangan berikutnya adalah bagaimana mengelolanya.
Di sinilah Document Management System (DMS) dapat berperan.
DMS dapat digunakan untuk membantu mengatur dokumen secara terpusat, termasuk pengelompokan, indexing, pencarian, pengaturan akses, dan pengelolaan dokumen berdasarkan kebutuhan organisasi.
Artinya, digitalisasi arsip dapat menjadi tahap awal, sedangkan DMS menjadi salah satu sarana untuk mengelola dokumen digital tersebut secara lebih sistematis.
Untuk perusahaan yang membutuhkan pengelolaan dokumen setelah proses digitalisasi, solusi Document Management System Indoarsip dapat menjadi bagian dari strategi pengelolaan dokumen digital.
Kapan Perusahaan Sebaiknya Menggunakan Jasa Digitalisasi Arsip?
Digitalisasi internal dapat dilakukan ketika volume dokumen masih terbatas dan perusahaan memiliki sumber daya, perangkat, serta prosedur yang memadai.
Namun, penggunaan jasa profesional dapat dipertimbangkan ketika:
- Volume arsip sangat besar.
- Dokumen tersebar di banyak lokasi.
- Perusahaan tidak memiliki cukup tenaga untuk scanning.
- Dokumen memiliki tingkat kerahasiaan tinggi.
- Dibutuhkan indexing dalam jumlah besar.
- Perusahaan membutuhkan OCR.
- Dokumen perlu diproses dengan standar tertentu.
- Perusahaan membutuhkan quality control.
- Digitalisasi harus selesai dalam periode tertentu.
- Hasil perlu disiapkan untuk masuk ke sistem pengelolaan dokumen.
Untuk proyek berskala besar, perencanaan kapasitas dan alur kerja menjadi penting agar digitalisasi tidak mengganggu operasional perusahaan.
Mengapa Memilih Indoarsip untuk Digitalisasi Arsip?
Indoarsip dapat membantu perusahaan dalam mengelola proses digitalisasi arsip sesuai karakteristik dan kebutuhan dokumen.
Pendekatan digitalisasi dapat mencakup proses mulai dari persiapan arsip, scanning, quality control, OCR bila diperlukan, indexing, metadata, hingga penyusunan hasil digital.
Dengan proses yang lebih terstruktur, perusahaan tidak hanya mendapatkan file digital, tetapi juga dapat mempersiapkan dokumen untuk dikelola lebih lanjut dalam lingkungan digital.
Untuk kebutuhan pengelolaan dokumen setelah proses digitalisasi, perusahaan dapat menghubungkan hasil digitalisasi dengan Document Management System sesuai kebutuhan organisasi.
Tips Memulai Digitalisasi Arsip Perusahaan
Sebelum memulai proyek, perusahaan dapat melakukan beberapa persiapan:
- Tentukan tujuan digitalisasi.
- Inventarisasi arsip.
- Tentukan dokumen yang menjadi prioritas.
- Periksa kondisi fisik arsip.
- Tentukan standar kualitas scanning.
- Tentukan format output.
- Buat aturan penamaan file.
- Tentukan metadata dan indexing.
- Tentukan hak akses.
- Siapkan sistem penyimpanan.
- Siapkan strategi backup.
- Tentukan prosedur quality control.
- Tentukan siapa yang bertanggung jawab terhadap hasil.
- Pastikan proses sesuai dengan kebijakan kearsipan organisasi.
Persiapan tersebut akan membantu perusahaan menghindari kondisi di mana dokumen sudah banyak didigitalisasi tetapi sulit digunakan kembali.
perusahaan Anda bersama Indoarsip dan tentukan proses yang sesuai dengan jenis, volume, serta kebutuhan pengelolaan dokumen Anda.