Perbedaan Scan Dokumen dan Alih Media Arsip

List of contents

Pendahuluan

Dokumen fisik masih digunakan oleh banyak perusahaan untuk menyimpan informasi penting, seperti kontrak, dokumen legal, laporan keuangan, dokumen kepegawaian, laporan proyek, hingga dokumen operasional.

Seiring bertambahnya jumlah arsip, penyimpanan dalam bentuk fisik dapat menimbulkan berbagai kendala. Dokumen membutuhkan ruang penyimpanan, pencarian membutuhkan waktu, dan arsip fisik juga memiliki risiko rusak, hilang, atau sulit digunakan ketika dibutuhkan.

Untuk mengatasi kebutuhan tersebut, perusahaan dapat melakukan scan dokumen maupun alih media arsip. Keduanya sama-sama dapat menghasilkan dokumen dalam bentuk digital, tetapi memiliki cakupan dan tujuan yang berbeda.

Scan dokumen lebih berfokus pada proses teknis memindai dokumen fisik menjadi file digital. Sementara itu, alih media arsip merupakan proses yang lebih luas karena mencakup persiapan arsip, pemindaian, pemeriksaan hasil, indexing, metadata, quality control, hingga pengelolaan hasil digital.

Dengan memahami perbedaan keduanya, perusahaan dapat menentukan metode yang sesuai dengan kebutuhan pengelolaan dokumen dan arsip.

Apa Perbedaan Scan Dokumen dan Alih Media Arsip?

Scan dokumen dan alih media arsip sama-sama dapat mengubah dokumen fisik menjadi bentuk digital, tetapi proses yang dilakukan tidak sepenuhnya sama.

Scan dokumen merupakan kegiatan teknis untuk memindai dokumen fisik menggunakan scanner dan menghasilkan file digital seperti PDF, JPEG, atau TIFF.

Sementara itu, alih media arsip memiliki cakupan yang lebih menyeluruh. Selain pemindaian, prosesnya dapat meliputi identifikasi dan seleksi arsip, penataan dokumen, pemeriksaan hasil pemindaian, pemberian indeks atau metadata, quality control, pengelolaan file, hingga dokumentasi proses alih media.

Dengan demikian, scan dokumen dapat menjadi salah satu tahapan dalam alih media arsip, tetapi kegiatan scan saja belum tentu mencakup seluruh proses alih media arsip.

Perbedaan Scan Dokumen dan Alih Media Arsip dari Sisi Proses

1. Scan Dokumen Berfokus pada Pemindaian

Pada scan dokumen, fokus utama adalah mengubah dokumen fisik menjadi file digital.

Dokumen diletakkan pada perangkat pemindai, kemudian hasil pemindaian disimpan dalam format yang sesuai dengan kebutuhan.

Proses ini cocok ketika perusahaan hanya membutuhkan salinan digital atau ingin menyediakan akses yang lebih mudah terhadap dokumen tertentu.

2. Alih Media Arsip Memiliki Proses yang Lebih Menyeluruh

Alih media arsip tidak hanya berhenti pada proses pemindaian. Proses dapat dimulai dari identifikasi arsip, persiapan dokumen, pemindaian, pemeriksaan hasil, indexing, metadata, quality control, hingga penyimpanan hasil digital.

Pendekatan ini membantu memastikan informasi yang dialihkan tetap dapat ditemukan dan dikelola dengan baik setelah menjadi arsip digital.

Untuk pengelolaan dan penyelenggaraan kearsipan, perusahaan juga perlu memperhatikan ketentuan yang berlaku. Informasi terkait kebijakan dan penyelenggaraan kearsipan dapat merujuk pada Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).

Perbedaan dari Sisi Tujuan

Scan Dokumen

Scan dokumen dapat dilakukan ketika perusahaan membutuhkan salinan digital dari dokumen fisik.

Tujuannya dapat berupa:

  • membuat salinan dokumen;
  • mempermudah akses;
  • mengurangi kebutuhan membuka dokumen fisik;
  • menyediakan cadangan informasi;
  • memudahkan distribusi dokumen.

Alih Media Arsip

Alih media arsip memiliki tujuan yang lebih luas. Selain menghasilkan bentuk digital, prosesnya juga memperhatikan bagaimana informasi arsip dapat dikelola dan ditemukan kembali.

Tujuan alih media dapat mencakup:

  • memudahkan akses informasi;
  • mempercepat pencarian dokumen;
  • mengurangi ketergantungan pada arsip fisik;
  • mendukung pengelolaan arsip yang lebih terstruktur;
  • membantu menjaga ketersediaan informasi;
  • mendukung pengelolaan arsip secara digital.

Perbedaan dari Sisi Pengelolaan Hasil

Hasil scan dokumen dapat berupa file digital yang disimpan pada folder, komputer, server, atau media penyimpanan lainnya.

Namun, ketika perusahaan melakukan alih media arsip, hasil digital dapat dilengkapi dengan informasi pendukung seperti indeks, metadata, klasifikasi, dan struktur penyimpanan.

Dengan pengelolaan tersebut, pencarian dokumen tidak hanya bergantung pada nama file. Informasi seperti nomor dokumen, tanggal, jenis arsip, unit kerja, periode, atau nomor kontrak dapat digunakan untuk membantu proses temu kembali.

Perbedaan dari Sisi Quality Control

Pada scan dokumen sederhana, pemeriksaan hasil dapat dilakukan secara terbatas untuk memastikan file berhasil dibuat.

Dalam alih media arsip, pemeriksaan hasil menjadi bagian penting dari proses. Hasil pemindaian dapat diperiksa berdasarkan:

  • kelengkapan halaman;
  • keterbacaan;
  • urutan halaman;
  • orientasi dokumen;
  • kualitas gambar;
  • kesesuaian dengan dokumen sumber;
  • kondisi file.

Jika ditemukan halaman yang hilang, terpotong, tidak terbaca, atau tidak sesuai, dokumen dapat diproses kembali sebelum masuk ke tahap berikutnya.

Perbedaan dari Sisi Indexing dan Metadata

Salah satu perbedaan penting antara scan dokumen dan alih media arsip adalah pengelolaan informasi setelah dokumen dipindai.

Scan dokumen dapat menghasilkan file digital tanpa informasi tambahan.

Dalam alih media arsip, hasil digital dapat diberikan indexing dan metadata agar dokumen lebih mudah ditemukan dan dikelola.

Metadata dapat mencakup:

  • nomor dokumen;
  • tanggal;
  • jenis arsip;
  • nama pihak terkait;
  • unit kerja;
  • nomor kontrak;
  • periode;
  • klasifikasi;
  • status dokumen.

Dengan indexing dan metadata yang baik, perusahaan dapat melakukan pencarian berdasarkan informasi dokumen, bukan hanya berdasarkan nama file.

Apakah Scan Dokumen Sudah Termasuk Alih Media Arsip?

Scan dokumen dapat menjadi bagian dari proses alih media arsip, tetapi keduanya tidak selalu memiliki cakupan yang sama.

Jika perusahaan hanya melakukan pemindaian dokumen dan menyimpan hasilnya sebagai PDF atau gambar, kegiatan tersebut lebih tepat disebut sebagai scan dokumen.

Sementara itu, apabila proses mencakup persiapan arsip, pemindaian, pemeriksaan kualitas, indexing, metadata, pengelolaan hasil, dan dokumentasi sesuai kebutuhan, maka proses tersebut memiliki cakupan yang lebih dekat dengan alih media arsip.

Karena itu, perusahaan perlu menentukan kebutuhan sejak awal agar proses yang dilakukan sesuai dengan tujuan pengelolaan arsip.

Tahapan Alih Media Arsip

Agar hasilnya dapat digunakan dengan baik, proses alih media sebaiknya dilakukan melalui tahapan yang terstruktur.

1. Identifikasi dan Seleksi Arsip

Langkah pertama adalah menentukan arsip yang akan dialihkan medianya.

Perusahaan dapat menentukan prioritas berdasarkan:

  • frekuensi penggunaan;
  • nilai informasi;
  • kebutuhan operasional;
  • kondisi fisik;
  • kebutuhan audit;
  • tingkat kepentingan dokumen;
  • kebutuhan akses cepat.

Tahap ini membantu perusahaan menentukan cakupan pekerjaan sebelum proses dimulai.

2. Inventarisasi Arsip

Setelah arsip ditentukan, dilakukan inventarisasi.

Informasi yang dapat dicatat antara lain:

  • jenis arsip;
  • jumlah berkas;
  • periode arsip;
  • nomor atau kode arsip;
  • lokasi penyimpanan;
  • unit pemilik;
  • kondisi fisik;
  • tingkat kerahasiaan.

Inventarisasi membantu memastikan arsip yang diproses dapat ditelusuri sejak awal hingga hasil digitalnya.

3. Persiapan Dokumen

Dokumen fisik perlu dipersiapkan sebelum masuk ke proses scanning.

Persiapan dapat mencakup:

  • melepas staples atau penjepit;
  • merapikan halaman;
  • memisahkan dokumen;
  • mengurutkan halaman;
  • memeriksa halaman yang rusak;
  • memastikan dokumen tidak tertukar.

Tahap persiapan sangat penting karena kondisi fisik arsip dapat memengaruhi hasil pemindaian.

4. Pemindaian Dokumen

Dokumen yang telah dipersiapkan kemudian dipindai menggunakan perangkat yang sesuai dengan karakteristik arsip.

Pengaturan pemindaian perlu disesuaikan dengan kebutuhan dokumen, termasuk resolusi, format file, orientasi, dan kualitas gambar.

Hasil pemindaian harus memastikan informasi tetap dapat dibaca dan tidak terdapat halaman yang hilang atau terpotong.

5. Pemeriksaan Hasil Pemindaian

Setelah scanning, hasil digital perlu diperiksa.

Pemeriksaan dapat meliputi:

  • kelengkapan halaman;
  • keterbacaan;
  • urutan halaman;
  • orientasi;
  • kualitas gambar;
  • kesesuaian dengan dokumen sumber;
  • kondisi file.

Jika ditemukan kesalahan, dokumen perlu diproses kembali sebelum masuk ke tahap berikutnya.

6. OCR untuk Dokumen yang Membutuhkan

Pada dokumen tertentu, OCR atau Optical Character Recognition dapat digunakan untuk mengenali teks pada hasil pemindaian.

OCR dapat membantu pencarian informasi di dalam dokumen digital.

Namun, hasil OCR tetap perlu diperiksa karena tingkat akurasi dapat dipengaruhi oleh kualitas scan, kondisi dokumen, tulisan, tabel, cap, atau elemen lainnya.

7. Indexing dan Metadata

Hasil alih media perlu diberikan informasi pendukung agar mudah ditemukan kembali.

Informasi tersebut dapat berupa:

  • nomor dokumen;
  • tanggal;
  • jenis arsip;
  • nama perusahaan atau pihak terkait;
  • unit kerja;
  • nomor kontrak;
  • periode;
  • klasifikasi;
  • status dokumen.

Dengan indexing dan metadata, pencarian tidak hanya bergantung pada nama file.

8. Quality Control

Quality control dilakukan untuk memastikan hasil alih media sesuai dengan standar yang telah ditentukan.

Pemeriksaan dapat dilakukan terhadap dokumen sumber dan file digital untuk memastikan informasi tidak hilang, salah urut, atau tidak terbaca.

Quality control menjadi salah satu tahap penting karena kesalahan yang tidak terdeteksi dapat menyulitkan perusahaan ketika dokumen dibutuhkan kembali.

9. Penyimpanan dan Pengamanan Hasil

Setelah proses selesai, hasil alih media perlu disimpan pada media atau sistem yang sesuai.

Perusahaan perlu mempertimbangkan:

  • struktur penyimpanan;
  • backup;
  • hak akses;
  • keamanan informasi;
  • pengelolaan versi;
  • mekanisme pencarian;
  • kebutuhan integrasi dengan DMS.

Dengan demikian, hasil alih media tidak hanya menjadi kumpulan file, tetapi dapat digunakan sebagai sumber informasi yang terkelola.

Dokumen Apa Saja yang Cocok untuk Alih Media?

Tidak semua dokumen harus diproses dalam waktu yang sama. Perusahaan dapat memprioritaskan arsip yang membutuhkan akses tinggi atau memiliki nilai informasi penting.

Dokumen Legal

Kontrak, perjanjian, dokumen kepemilikan, dan dokumen legal lainnya dapat dialihkan ke media digital untuk mempermudah pencarian dan akses oleh pihak yang berwenang.

Dokumen Keuangan

Invoice, laporan keuangan, bukti transaksi, dan dokumen pendukung dapat dialihkan untuk membantu pengelolaan dan pencarian informasi.

Dokumen Kepegawaian

Dokumen administrasi karyawan dapat dikelola secara digital dengan tetap memperhatikan kerahasiaan dan hak akses.

Dokumen Proyek

Laporan, kontrak, gambar, berita acara, dan dokumen proyek dapat dialihkan agar informasi lebih mudah ditelusuri selama maupun setelah proyek selesai.

Arsip Historis

Arsip yang memiliki nilai historis atau informasi penting juga dapat menjadi prioritas, terutama apabila kondisi fisiknya mulai membutuhkan perhatian khusus.

Apa Manfaat Alih Media Arsip bagi Perusahaan?

Penerapan alih media yang dilakukan secara terencana dapat memberikan beberapa manfaat, antara lain:

  • mempercepat akses terhadap informasi;
  • membantu pencarian dokumen;
  • mengurangi penggunaan ruang untuk akses dokumen;
  • mempermudah distribusi informasi kepada pengguna berwenang;
  • mendukung proses audit dan pemeriksaan;
  • membantu menjaga ketersediaan informasi;
  • mendukung integrasi dengan sistem pengelolaan dokumen;
  • meningkatkan efisiensi pengelolaan arsip.

Manfaat tersebut akan lebih optimal apabila hasil alih media disertai sistem klasifikasi, indexing, keamanan, dan pengelolaan dokumen yang baik.

Apakah Arsip Fisik Boleh Dimusnahkan Setelah Alih Media?

Tidak otomatis.

Setelah dokumen dialihkan ke media digital, arsip fisik tidak serta-merta boleh dimusnahkan.

Perusahaan perlu mempertimbangkan masa retensi, nilai informasi, kebutuhan hukum, kebijakan internal, serta ketentuan kearsipan yang berlaku. Untuk memastikan proses pengelolaan arsip sesuai dengan prinsip kearsipan, perusahaan dapat merujuk pada informasi dan ketentuan yang diterbitkan oleh Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).

Dasar hukum dan peraturan terkait kearsipan juga dapat diperiksa melalui JDIH BPK RI agar perusahaan dapat menyesuaikan kebijakan pengelolaan arsip dengan ketentuan yang berlaku.

Karena itu, keputusan pemusnahan harus dilakukan berdasarkan prosedur yang sesuai. Keberadaan salinan digital tidak dengan sendirinya menjadi dasar bahwa arsip fisik dapat langsung dimusnahkan.

Keamanan dalam Proses Alih Media Arsip

Alih media juga perlu memperhatikan keamanan sejak dokumen masih berbentuk fisik hingga hasil digital diserahkan kepada perusahaan.

Beberapa aspek yang perlu diperhatikan meliputi:

  • pengendalian akses terhadap arsip;
  • keamanan selama proses pemindaian;
  • perlindungan file digital;
  • pembatasan akses pengguna;
  • backup;
  • pencatatan aktivitas;
  • pengamanan media penyimpanan.

Untuk dokumen yang bersifat rahasia, proses alih media sebaiknya dilakukan dengan prosedur yang lebih ketat agar informasi tidak mudah diakses oleh pihak yang tidak berwenang.

Kapan Perusahaan Membutuhkan Scan Dokumen dan Kapan Membutuhkan Alih Media Arsip?

Jika kebutuhan perusahaan hanya membuat salinan digital dari sejumlah dokumen, scan dokumen dapat menjadi pilihan yang sesuai.

Namun, apabila perusahaan memiliki arsip dalam jumlah besar dan membutuhkan proses yang lebih terstruktur, seperti penataan arsip, indexing, metadata, quality control, serta pengelolaan hasil digital, alih media arsip dapat menjadi pilihan yang lebih tepat.

Terutama untuk arsip legal, keuangan, kepegawaian, proyek, kontrak, dan dokumen operasional yang perlu mudah ditemukan kembali dan dikelola secara terstruktur.

Alih Media Arsip Internal atau Menggunakan Jasa Profesional?

Perusahaan dapat melakukan alih media secara internal apabila volume dokumen masih terbatas dan memiliki tenaga, perangkat, serta sistem yang memadai.

Namun, ketika volume arsip semakin besar, pekerjaan dapat membutuhkan waktu dan sumber daya yang tidak sedikit.

Jasa profesional dapat dipertimbangkan apabila perusahaan membutuhkan:

  • pemrosesan arsip dalam jumlah besar;
  • perangkat scanning khusus;
  • indexing dan metadata;
  • quality control;
  • pengelolaan dokumen rahasia;
  • standar hasil digital tertentu;
  • tenaga khusus;
  • penyelesaian dalam target waktu tertentu.

Dengan dukungan tenaga profesional, proses dapat dilakukan mulai dari persiapan arsip hingga menghasilkan dokumen digital yang siap dikelola.

Mengapa Memilih Indoarsip untuk Alih Media Arsip?

Indoarsip membantu perusahaan dalam proses pengelolaan arsip melalui pendekatan yang tidak hanya berfokus pada pemindaian.

Proses alih media dapat mencakup identifikasi arsip, persiapan dokumen, pemindaian, quality control, indexing, metadata, hingga pengelolaan hasil digital.

Pendekatan tersebut membantu memastikan bahwa hasil alih media tidak hanya menghasilkan file digital, tetapi juga dapat digunakan dan ditemukan kembali sesuai kebutuhan perusahaan.

Jika perusahaan membutuhkan jasa alih media arsip dengan proses yang terstruktur, Indoarsip dapat membantu menangani proses mulai dari persiapan dokumen hingga pengelolaan hasil digital.

SHARE:

Facebook
X
WhatsApp